Peran RA Kartini dalam mengangkat derajat kaum wanita memang sudah tidak diragukan lagi. Dalam surat-suratnya yang dikirim kepada teman-temannya di negeri Belanda, merupakan curahan perasaan yang mendalam tentang kepedihan wanita Indonesi. Setelah satu abad lebih, wanita mulai bangkit dan membangun jati dirinya sehingga posisi wanita sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan saat Kartini berjuang untuk para wanita. Mungkin RA Kartini sangat bangga dengan wanita-wanita sekarang jika beliau masih hidup. Perjuangan mengangkat kedudukan dengan simbol emansipasi wanita terus dilakukan dari waktu ke waktu. Memang perjuangan Kartini baru terasa ketika Kartini sendiri sudah wafat, akan tetapi karena sosok Kartini-lah para wanita dapat memperoleh kedudukan yang tinggi pada saat ini.
Yang tidak jauh berbeda dengan emansipasi wanita yang diinginkan oleh Kartini adalah perjuangan terhadap persamaan kedudukan antara pria dan wanita atau yang sering disebut kesetaraan gender. Gender tidaklah sama dengan seks atau jenis kelamin. Memang ada hubungannya antara gender dan jenis kelamin yaitu awal keberangkatan dari dua hal tersebut. Jenis kelamin merupakan hal bawaan ketika manusia lahir. Pembedaan jenis kelamin sangat jelas, yaitu pria memiliki penis, jakun, kumis dan jenggot sedangkan wanita memiliki payudara vagina dan melahirkan anak. Jenis kelamin tidak dipengaruhi oleh lingkungan ataupun perbedaan peradaban akan tetapi akan tetap melekat pada manusia sampai akhir hayatnya.
Sedangkan gender merupakan hal yang dikondisikan oleh manusia dalam kehidupan sosial. Peran yang melekat pada pria dan wanita memang disosialisasikan secara turun temurun dan sudah dianggap sebagai budaya yang melekat erat di masyarakat. Misalnya peran wanita untuk merawat anak, mengurus rumah, memasak dan mencuci, sedangkan peran pria yang bekerja di luar rumah untuk mencukupi keperluan rumah tangganya. Peran ini seolah-olah memang sudah menjadi hal yang wajar dan tidak dapat diganggu gugat keberadaannya. Dengan budaya masyarakat Indonesia yang mayoritas patriarkhi, maka gugatan terhadap gender dapat dianggap sebagai penentangan terhadap adat atau budaya sehingga penentangan ini dapat berakibat hukuman sosial pada wanita itu sendiri.
Gender sendiri mulai digaungkan pada era tahun 70an. Pada masa-masa itu, gender memang masih dianggap baru dan tabu sehingga banyak kalangan yang menganggap bahwa isu gender merupakan isu yang tidak penting. Akan tetapi para tokoh gender berupaya dengan menggelar pertemuan dan seminar dengan membawa isu gender ke ranah publik yang lebih luas. Tujuan yang ingin dicapai pada saat itu adalah pengenalan pada masyarakat tentang pentingnya gender bagi wanita. Tujuan yang lebih lanjut tentu tanggapan yang serius dan penting terhadap kesetaraan gender itu sendiri.
Pada era 80-90an, memang gender mulai dianggap sebagai isu penting. Semua elemen masyarakat berlomba-lomba untuk menunjukkan kepedulian terhadap kesetaraan gender. Wanita berperan aktif dalam segala hal, seolah-olah bahwa dunia baru telah lahir dan mereka punya kesempatan yang sangat luas untuk mengekspresikan seluruh tenaga dan pikirannya dalam kegiatan publik yang lebih luas. Pada saat itu, wanita karier merupakan hal yang sangat diharapkan. Banyak wanita yang bekerja di luar rumah karena memang peran wanita untuk bekerja terbuka sangat lebar. Hingga saat ini, wanita yang bekerja terhitung tidak menurun justru semakin naik yang membuktikan bahwa peran wanita dalam ranah publik sudah tidak diragukan lagi.
Peran wanita dalam masyarakat tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap dalam pekerjaan, akan tetapi beberapa diantaranya justru menduduki posisi vital dalam suatu perusahaan ataupun instansi pemerintah. Tidak hanya pada ranah sosial akan tetapi politik juga tidak sedikit wanita yang terjun dalam dunia tersebut. Bahkan Indonesia juga pernah dipimpin oleh seorang presiden wanita. Jadi tidaklah mengherankan jika memang gender di Indonesia sudah dianggap hal yang wajar dalam kehidupan masyarakat.
Akan tetapi, kesetaraan gender yang digaungkan tentu berimbas pada pola kegiatan yang dilakukan oleh wanita. Kesetaraan gender yang selalu dijalankan oleh wanita tentu tidaklah dapat dipisahkan dari kekuatan jenis kelamin manusia. Kodrat wanita yang memang selalu berawal dan berakhir di rumah tentu tidak dapat dipisahkan dari kehidupan rumah tangganya. Naluri keibuan yang dimiliki oleh wanita tentu tidak dapat dihilangkan. Artinya bahwa, sejauh apapun kaki wanita melangkah, setinggi apapun karier wanita, tentu dia tidak akan dapat melupakan keluarganya. Hal ini tentu akan menjadi masalah ketika terjadi benturan kepentingan antara karier dan keluarga. Atau ketika memang keduanya memerlukan perhatian disaat bersamaan, tentu hal ini tidaklah mudah untuk memilih mana yang didahulukan dan mana yang dikesampingkan.
Aktifitas wanita yang semakin padat di luar rumah tentu berakibat pada wanita itu sendiri. Sebagian merasa bahwa aktifitas diluar merupakan kesempatan yang sangat berharga dan tidak mau disia-siakan sehingga apapun resiko yang menyertainya akan tetap dihadapi walaupun terkadang justru menyulitkan dirinya. Karena bagaimanapun juga, kemampuan fisik dan mental wanita sangat terbatas. Disamping itu, kebutuhan perhatian di rumah tangga juga merupakan hal yang tidak dapat ditinggalkan.
Peran ibu rumah tangga yang berkarier seperti berdiri di dua sisi yang saling berlawanan. Di satu sisi, wanita ingin selalu meningkatkan kariernya akan tetapi dia tetap tidak dapat meninggalkan tanggung jawabnya di keluarga. Tetap saja pekerjaan rumah merupakan tanggung jawabnya. Sehingga tidak jarang, justru wanita yang bekerja mempunyai dua tanggung jawab sekaligus. Tanggung jawab kepada pekerjaan d kantor dan tanggung jawab pada tugas di rumah. Dengan kondisi fisik yang terbatas, dua pekerjaan inilah yang sering menyita seluruh waktu dalam hidupnya. Ketika pulang kerja, dengan kondisi yang kelelahan, wanita masih dituntut untuk menghadapi pekerjaan rumahnya. Mungkin bagi keluarga dengan penghasilan yang besar, hal ini bukanlah masalah. Tugas rumahan dapat diserahkan pada pembantu rumah tangga. Akan tetapi pada keluarga dengan penghasilan pas-pasan, tentu menggaji orang untuk membantu pekerjaan rumahan bukanlah hal yang ringan. Apalagi pada wanita dengan penghasilan rendah justru lebih banyak bekerja pada level bawah yang tentu akan membutuhkan tenaga yang ekstra besar.
Keadaan ini tentu menjadi bahan pemikiran saat ini tentang kesetaraan gender yang diagung-agungkan sebagian wanita. Keinginan untuk duduk setara dengan kaum pria tentu masih perlu tahapan lebih lanjut. Kesempatan bekerja di luar rumah tentu harus diimbangi dengan pembagian pekerjaan di dalam rumah. Masuknya wanita ke ranah pria dengan bekerjanya wanita dan membantu pekerjaan suami tentu harus diimbangi dengan pembagian pekerjaan yang memang “dikodratkan” sejak dulu bagi perempuan. Atau memang jika wanita berkomitmen untuk bekerja maka tentu dia akan meninggalkan pekerjaan-pekerjaan rumahnya.
Maka pemikiran lebih lanjut pada dewasa ini adalah, ketika kesetaraan gender sudah dilakukan, dimana wanita mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk bekerja di luar rumah, maka justru hal tersebut akan menyulitkan dirinya. Dengan aktivitas yang padat tentu akan semakin menambah beban kerjanya. Tekanan yang berasal dari pekerjaan dan rumah tangganya akan bertambah pada wanita yang bekerja. Maka dari itu, pentingnya rencana yang matang dan mendalam jika memang seorang wanita berkeinginan untuk bekerja dengan tetap mempertahankan kualitas keibuannya.