Kita tentu pernah melihat kereta api. Atau bahkan sudah menjadi alat angkutan sehari-hari..

Iqra… Dari kereta api kita dapat ambil pelajaran.

Kereta api kita ibaratkan dengan hidup kita. Lokomotif tentu berada di depan, sama seperti mata kita yang selalu menatap kedepan. Perjalanan kereta yang selalu berada di rel, sebuah taqdir hidup yang sudah digariskan Allah SWT bahkan sebelum kita lahir. Kita tidak akan bisa keluar dari rel karena memang itulah jalan hidup kita.  Tujuan hidup adalah stasiun harapan, yang merupakan titik akhir dari perjalanan hidup manusia yaitu kematian. Stasiun tempat kita turunkan barang-barang bawaan. Kita tahu tempatnya tapi tidak tahu kapan akan sampai kesana.

Kita seolah masinis yang menjalankan kereta dengan diikuti oleh gerbong yang berisi istri, anak, atau jamaah dalam pekerjaan. Perjalanan dalam kehampaan, hanya mengandalkan peta syariah, dan bahkan kita memang tidak pernah melewati rel kehidupan tersebut.

Kadang kita kebingungan ketika dihadapkan pada rel persimpangan pilihan hidup. Pilihan kanan atau kiri harus dipilih dengan resiko yang mungkin tidak kita sadari. Akankah akan kita temui kehidupan yang indah atau kehidupan penuh kenistaan pada rel yang kita pilih. Dan tidak akan mungkin kita dapat melalui kedua rel tersebut. Pilihan yang kita ambil dengan mata terbuka atau mata tertutup. Dengan minta petunjuk-Nya atau mengikuti kata hati. Tapi bagaimanapun juga, itulah taqdir yang kita punyai.

Perjalanan yang tak pernah berhenti, semakin jauh dari stasiun keberangkatan dan semakin dekat ke stasuin tujuan. Dikelilingi oleh pemandangan indah. Yang kadang melenakan kita, membuat lupa akan tujuan akhir yang lebih abadi. Variasi perjalanan adalah inti kehidupan. Jalan landai yang menyenangkan karena tanpa beban, dan jalan menanjak yang menyesakkan. Jembatan yang mungkin rapuh, yang jika dilewati penuh dengan resiko celaka pun harus dilewati serta terowongan panjang yang gelap pun harus dilalui. Demi sampai di stasiun tujuan dengan selamat.